Thursday, October 21, 2010

Tentang Camilla

Namanya Camilla...dan aku mencintainya. Sudah beberapa tahun aku mengenalnya, dan semakin lama aku semakin jatuh cinta. Tidak usahlah kugambarkan fisiknya. Karena menurutku kecantikan fisik adalah relatif. Karena menurutku dia gadis tercantik yang pernah kutemui. Yang menurutku pantas kalian tau adalah betapa dia tidak hanya cantik, tapi ia juga cerdas...Bukan hanya pintar yah, tapi cerdas...Ia bisa melalap berbagai jenis bacaan, jika moodnya sedang baik, dan kemudian menceritakannya kembali kepada orang lain dengan gaya yang sangat memukau. Kau bisa mendengarkannya berbicara berjam-jam tanpa merasa bosan dengan apa yang dibicarakannya. Itu kau, yang tak mengenal Camilla, bisa kau bayangkan betapa betahnya aku? Hehehehhe...

Namanya Camilla...dia bilang nama itu diambil dari nama tumbuhan yang banyak hidup di kota kecil tempatnya bertumbuh dewasa, dengan sedikit penyesuaian...Camellia Sinensis...Teh...Tumbuhan kaya manfaat yang tidak memabukkan, tapi cukup sarat kafein sehingga bisa juga bikin kecanduan. Seperti aku yang kecanduan pada aroma tubuhnya yang segar, suaranya yang merdu, dan tatapan matanya yang bening. Dan jantungku pun dibuat deg-degan oleh kafein pesonanya..

Tapi mencintai Camilla buatku adalah menyesap secangkir Ocha yang pekat dan terlalu panas...lidahku dibuatnya terbakar sehingga kelu untuk menyatakan perasaanku, dan pahit karena aku harus menerima kenyataan bahwa ia telah bertunangan dengan Ryza, teman masa kecilnya. Dan sekali lagi, aku harus bisa menerima kenyataan dan menikmati keindahannya dari jauh. Hanya sekedar memandangi punggungnya, mereka siluetnya, dan menghirup aromanya, sekali lagi dari kejauhan.

Aku harap kau tidak salah sangka. Aku ini bukannya pengecut yang tidak punya nyali untuk mendekati Camilla. Faktanya aku dan Camilla cukup akrab. Kami sering berbagi cerita sehari-hari dan terkadang saling curhat mengenai apa yang kami rasakan, apalagi kami bertetangga dan berada di lingkungan kerja yang sama. Masalahnya aku melihatnya seperti kristal Swarowski yang super mahal harganya. Yang harus kujaga baik-baik dan kuperlakukan dengan hati-hati karena jatuh sedikit saja ia bisa langsung pecah. Makanya aku jadi lambat dalam bertindak. Sampai suatu hari Ryza datang dari kuliah Masternya di Inggris dan menyabet Camilla begitu saja dariku. Bukan salahnya juga sih. Ini kan dunia persaingan bebas, siapa cepat dia yang dapat. Dan aku si siput darat hanya bisa melongo melihat targetku disergap elang. Hhhhh....nasib!

Sebagai manusia, aku mencoba bersikap bijaksana. Mengetahui bahwa mencintai tidak selalu harus memiliki, melainkan berbahagia bila orang yang kita cintai itu mendapatkan kebahagiaan (iyaa..iyaaa..aku melankolis...tapi jangan salahkan aku...semua manusia berhak jadi mellow untuk urusan cinta...hahay!!!). Aku mencoba untuk bahagia mengantarkan Camilla mempersiapkan pernikahannya. Melihat matanya yang berbinar setiap kali menceritakan apa saja yang sudah dilakukannya, kadang aku berharap, binar itu untuk aku.

Aku berusaha tabah menghadapi kenyataan. Bahwa Camilla akan menikah. Tapi semakin dekat tanggalnya, dadaku semakin sesak. Aku semakin merasa bahwa paling tidak, sebelum dia menikah, dia harus tau bahwa aku merasakan sesuatu untuknya. Bahwa kanker di hatiku ini harus dipotong, dan dibuang sebelum seluruh bagian hatiku terkena sirosis dan mengeras sehingga harus ditransplantasi organ baru hanya karena aku menahan perasaan ini sendirian. Dorongan itu semakin hari semaki kuat saja. Di benakku, di kepalaku, di mimpiku, semakin hari ide itu semakin jelas dan memaksa untuk mewujud di dunia realita.

Sampai hari ini. Hari terakhirnya di kantor sebelum cuti selama sebulan untuk menikah. Aku berada di mobil yang sama dengannya sepulang mengantarkan dokumen dari kantor klien. Kali ini hanya ada aku, dan Camilla. Tak ada yang lain. Dia masih sibuk menceritakan persiapan pestanya ketika entah dari mana keberanian itu datang dan sebuah kalimat tercetus dari mulutku,"Milla...jangan menikah"


Milla Jangan Menikah


Hanya tiga kata. Satu kalimat. Kurang dari dua detik durasi penyampaiannya. Tapi efeknya luar biasa. Ia terbengong dari tempat duduknya menatapku hampir hampir tidak percaya. Aku sendiri bingung harus bagaimana. Dalam kepalaku sebenarnya aku sibuk merutuki diri sendiri. Ketika aku punya kesempatan untuk mengutarakan isi hatiku, harusnya aku bilang: aku sayang kamu, atau aku cinta kamu, atau apalah kalimat tiga kata lainnya yang setidaknya terdengar lebih romantis. Tapi tidak, aku malah bilang: Milla jangan menikah. Bagus...Fantastis!

Kuberhentikan mobil di tepi taman kota, sambil berusaha menahan detak jantungku sendiri. Apa yang dipikirkannya? Bagaimana jika ia panik dan membenciku? Bagaimana jika aku malah akan kehilangan dia untuk selamanya karena kecerdasan kalimatku tadi? Lalu kutarik nafasku dalam-dalam dan memberanikan diri menatap matanya. Mencari jawaban dari semua ketakutan dan pemikiranku sendiri.


Gadis itu masih bengong. Aku deg-degan menunggu responnya. Siap digampar.


Tapi dia malah tertawa. terpingkal-pingkal seakan ada sesuatu yang lucu. Aku bingung. Kenapa hari ini semuanya begitu aneh ya?


"Pasti kamu takut jadi jomblo terakhir di kantor yaaa? tenang aja..aku punya banyak teman cowo yang high quality kok...kamu bisa pilih dipernikahanku nanti...lagian, kita kan masih bisa ketemu di kantor...Ryza masih ngebolehin aku kerja, kok..eh, beli teh botol yuk..haus niiih" katanya setelah tawanya reda.

Meninggalkan aku dengan pikiranku sendirian. Di dalam mobil, membeli minuman dingin.

1 comment:

  1. Previously posted in my multiply, but decided to move its house here :)

    ReplyDelete