Monday, March 28, 2011

Tolong Jangan Datang

Saya sudah bilang kamu jangan datang…Tapi kenapa kamu masih datang ke sini dan mengganggu hidup saya? Maaf, bukan saya tidak menghargai keberadaan kamu; sama sekali bukan itu..Saya hanya takut, bahwa kedatanganmu kali ini tidak untuk sementara.



Lagi-lagi kamu hanya diam…Setiap kali kamu datang, kamu hanya duduk diam di sana dan menatap saya…Pandangan matamu mengekor kemana pun tubuh saya bergerak, dan itu membuat saya jengah…Bagaimana mungkin kamu tidak jengah jika ada yang menatapimu seperti itu?? Ah…saya lupa…Kamu selalu merasa bahwa kamu si tidak tertatap…entah tak ada yang mau, atau tidak ada yang mau tau keberadaanmu. Intinya adalah…kamu ada, tapi ternafikan. Dan kamu sangat bahagia ketika saya menyapamu ketika kali pertama kita ketemu di lorong ini. Kamu tidak pernah bilang, tapi rasa itu ada di pancaran matamu. Tapi ya itu…kamu jadi sering datang dan menatap saya dalam diammu yang membuat saya bingung.


Awalnya kamu adalah kawan yang menyenangkan…Siapa yang tidak senang mendapatkan teman ketika bekerja di larut malam begini? Kamu memang tidak pernah bicara, tapi kamu mau mendengarkan semua keluh kesah saya, dan buat saya itu sudah cukup: Saya perlu tempat sampah, dan anehnya kamu selalu hadir waktu saya merasa butuh nyampah. Sekali lagi dengan hanya diam, pasang kuping, dan pandangan mata yang mengekor tubuh saya.


Tapi lama – lama saya jadi jengah. Karena setiap kali saya mengeluh tentang seseorang, maka warna matamu akan memerah dan besoknya secara ajaib orang itu akan hilang dari hidup saya. Bahkan ketika saya bilang bahwa saya sedang jatuh cinta. Kamu seharusnya merasakan kebahagiaan saya…Tapi kamu malah menampilkan sorot yang sama; dan itu membuat saya takut…sangat takut…Semakin saya bahagia dengan perkembangan hubungan cinta saya,matamu semakin merah…Bahkan ketika kamu tau bahwa ia melamar saya, seluruh tubuhmu memerah…Kamu seolah-olah terbakar oleh sesuatu; entah marah, entah cemburu,energinya cukup besar untuk membuat saya merinding…dan begitu takut, sehingga meminta kamu untuk pergi.


Saya mohon jangan datang lagi…Kamu tau dia sudah pergi dari saya, selamanya…dan saya merasa kamu punya andil besar dalam kepergiannya…Saya tau itu ketika kamu tersenyum sadis melihat saya menangisi kepergiannya…

1 comment: