Wednesday, September 19, 2012

Kali ini, Izinkan Saya Marah

Suatu hari Rabu yang tenang di Tunis. Saya dan suami sedang bekerja di kantor ketika seorang kolega yang berasal dari Libya mengabarkan terbunuhnya duta besar AS di Libya malam sebelumnya akibat kerusuhan yang dipicu oleh protes umat Islam Libya terhadap film Innocence of Muslim yang dibuat seorang warga negara US. Saya ingat waktu itu saya berpikir, "this is not going to be good". Itu rabu pagi. Siangnya kawan Libya itu tergopoh-gopoh membereskan laptopnya dan bilang kalo dia harus segera pulang menjemput anaknya karena sekolah akan ditutup menyusul akan adanya protes dan demo besar di kedutaan US yang lokasinya tepat berseberangan jalan dengan American School of Tunis, tempat anaknya sekolah. Ia juga mengatakan bahwa kantor biru yang berada di lokasi kejadian kerusuhan ditutup dan seluruh karyawan dirumahkan. Oh wow..

Rabu sore hingga Kamis e-mail kantor mulai dipenuhi oleh security alert dari security advisor si biru. Dikabarkan jalan disini akan ditutup, jalan disana akan ada kerumunan massa, seluruh karyawan diharapkan berhati-hati dan sebagainya. Kebetulan pada hari yang sama, suami harus balik ke Sfax karena ada meeting hari Jumat esoknya. Walaupun agak cemas, saya terpaksa lepas dia dan berdoa semoga dia baik-baik saja dan dilindungi selalu sama Allah.

Gongnya adalah hari Jumat. Pagi itu saya ke kantor seperti biasa. Begitu sampai kantor, saya disambut oleh security advisor dan QHSE manager didepan pintu yang meminta semua orang agar berkumpul di meeting room untuk briefing. Feeling udah gak enak tuh..Okelah saya ikuti saja, pengen tau ada apa. Setelah semua orang berkumpul, barulah si bapak security advisor bercerita tentang kondisi keamanan Tunisia pada umumnya dan Tunis/Sfax khususnya. Dia bilang sebuah protes dan demonstrasi besar-besaran akan diadakan di US embassy siang ini, karenanya semua karyawan diharapkan untuk meninggalkan kantor maksimal jam 11 pagi ini. Diharapkan sebelum solat Jumat selesai, kantor sudah dalam keadaan kosong. Ngek...otak saya kembali berkata: "beneran kagak bakalan beres nih. Asyiiik, ngantornya cuma bentar!!" hehehehee...

Saya kirim sms sama suami memberikan kabar soal kondisi terbaru dari Tunis, tapi karena sedang meeting, dia tidak membalas. Okelah, biasanya juga dia akan balas kalau meetingnya sudah selesai. Jam 11, saya malah ada meeting sama si bos yang sayangnya makan waktu lebih lama dari biasanya. Orang2 QHSE dan security sudah patroli didepan ruangan kami, bolak-balik menanyakan kapan kami akan selesai. Si bos bilang kami akan selesai jam 12 siang, yang ternyata malah molor sampai jam 12.30..

Di tengah2 meeting, suami telepon. Dia bilang, dia baru saja balik dari stasiun kereta tapi kereta api hari itu gak beroperasi karena semua pegawainya sedang strike alias mogok kerja. Ngek lagi..hati saya langsung ciut. Di negeri ini memang langganan pegawai perusahaan KA nya mogok kerja. Tapi dalam kondisi kaya gini malah bikin saya ketar-ketir. Suami bilang dia akan balik lagi ke stasiun untuk cek2 kondisi jam 2 siang dan akan kasi kabar. Saya bilang oke. Saya gak bisa apa-apa selain berdoa dalam hati semoga suami dikasih selamat. Semoga kami sekeluarga dikasih keselamatan.

Untungnya jarak antara rumah-kantor hanya 10menit naik nyetir. Begitu sampai rumah saya langsung cek-cek semua pintu dan jendela. Posisi rumah di Lac 2 ini walaupun di lantai 4 tapi hanya berjarak 5 menit dari kedubes US dan Kanada. So, kudu make sure semuanya sudah terkunci dan aman. Solat Zuhur supaya tenang, trus makan. Tapi emang dasar setan kerjanya bikin ketar-ketir hati orang yah..abis solat juga belom bisa tenang gara2 suami belom juga kasih kabar soal tiket dan kepastian keberangkatannya ke Tunis. Coba nonton tipi, gak konsen, browsing2 pinterest dan website lucu-lucu yang biasanya jadi obat mujarab buat mengalihkan perhatian juga gak berhasil tuh. Apalagi lewat 10menit dari jam 2 suami kirim sms yang bilang kalo masih ada strike dan belum ada kereta ke Tunis. At that point saya udah pasrah aja. Saya bilang sama suami,"kalo emang gak bisa ke Tunis yaudah gak apa-apa. Kamu diem aja dirumah istirahat, jangan keluar2 nanti ada apa2 kabarin". Suami juga mengatakan hal yang sama ke saya.

Jam 3-4 sore itu adalah satu jam paling nyiksa dalam hidup saya. Suara - suara sirine mobil polisi bolak-balik bersahutan, disusul dengan sirine mobil pemadam kebakaran dan ambulans. E-mail dari security advisor datang dan mengabarkan bahwa secara resmi diberlakukan travel ban. Tidak boleh ada pergerakan karyawan masuk/keluar Tunis. Seluruh karyawan yang berdomisili di Tunis diharapkan untuk tetap tinggal di rumah dan tidak keluar rumah sampai pemberitahuan lebih lanjut. Saya bilang sama minime kalau saya takut, tapi minime harus berani dan gak boleh takut karena dia didalam perut saya dan dia aman. Akhirnya daripada makin parno saya putuskan untuk tutup semua lapisan luar jendela (jendela rumah dan apartemen di Tunis dibuat dua lapis dimana lapisan terluar terbuat dari besi, kaya penutup toko-toko di Indonesia, untuk melindungi rumah dari badai gurun) sehingga rumah lebih kedap suara, saya nyalakan AC dan dalam kondisi rumah yang gelap saya masuk kamar dan nyungsep dibalik selimut, memutuskan untuk mencoba tidur. Saya gak mau dengar suara-suara itu. Pasang ear plug, handphone berada di dalam jangkauan dalam posisi vibrate jadi saya bisa segera bangun kalo ada kabar baik dari security maupun dari suami.

Alhamdulillah Allah masih baik sama saya. Saya dikasi tidur lumayan lama (mungkin ini ada hubungannya dengan fakta bahwa saya adalah Pelor sejati..hehehehe :p) dan dibangunkan oleh sms dari suami yang menanyakan dimana posisi saya sekarang. Saya telepon dia mengabarkan apa yang terjadi. Dia bilang, dia sudah ada di kereta api menuju Tunis dan akan tiba malam ini jam 8. Alhamdulillah saya langsung sujud syukur waktu itu. Antara senang karena suami bisa ke Tunis, tapi masih agak ngeri karena kondisi di sekitar. Tapi paling tidak, tau dia akan pulang bikin saya lebih tenang. Lagi-lagi disini saya cuma bisa berdoa. Minta supaya kami sekeluarga dilindungi. Jam 6.15 sore waktu itu, dan satu hal yang saya perhatikan adalah...suara di sekitar. Kembali sepi seperti biasanya. Tidak ada bunyi sirine, hanya bunyi derungan suara mobil dan klakson sekali-sekali. Beda sekali dengan suasana tadi siang yang hectic dan bikin parno. Hati saya bilang, "Mungkin sudah selesai". Jam 7.45 malam security advisor menelepon saya menanyakan keberadaan saya dan suami, menanyakan apakah saya baik-baik saja. Saya jawab iya, dan saya bilang bahwa suami sedang dalam perjalanan kemari. 15 menit kemudian, tepat jam 8 malam suami sampai di rumah. Itu adalah salah satu hal yang paling melegakan hati saya. Suami pulang. Selamat. Gak kenapa-kenapa. Sambil makan suami cerita kabar terbaru bahwa 4 orang meninggal dan puluhan luka-luka dari kerusuhan hari itu. Lagi-lagi saya cuma bisa mengucap syukur dalam hati.

Sepanjang week end kami habiskan dirumah. Keluar ke klinik yang lokasinya di belakang rumah untuk periksakan kondisi minime sebentar, lalu pulang lagi. Kami masih agak ngeri karena security alertnya belum diangkat. Alhamdulillah minime baik-baik saja. Sehat dan sejahtera. Anak hebat ini gak terpengaruh sama stress emaknya seharian kemarin. Me love you, minime! :*

Hari senin kami ke kantor seperti biasa, dan mendapat e-mail bahwa security alert sudah diangkat dan bisa beraktivitas sebagaimana biasanya. Hati udah tenang lagi. Alhamdulillah.

Pagi ini, saya ketemu sama ibu-ibu Dharmawanita Biru. Mereka semua datang ke acara morning coffee membawa anak-anak mereka yang diliburkan karena ternyata American school hancur berantakan. Kedubes AS juga hancur dengan banyak kaca-kaca pecah dan bekas terbakar dimana-mana. Saya cuma bisa mengelus dada. Mereka ini adalah ibu-ibu biasa, sebagian dari mereka juga muslim, yang kebetulan tidak berbahasa Arab maupun Perancis dan ingin anak mereka disekolahkan di sekolah berbahasa Inggris. Dan American School inilah satu-satunya sekolah Internasional di Tunisia yang berbahasa Inggris. Mereka cemas karena sekarang anak mereka tak bisa sekolah, dan mulai memikirkan untuk memindahkan anak-anak mereka ke sekolah Perancis yang diharapkan lebih aman. Tak sampai lama kami membahas mengenai hal tersebut, salah seorang ibu menerima telepon dari French School Tunis yang mengabarkan bahwa sekolah itu akan ditutup pada hari Jumat terkait dengan diterbitkannya sebuah kartun di media massa Perancis yang mendiskreditkan Rasulullah SAW.

Sampai disini, hati saya berteriak: "Gustiiiii...apalagi ini??" Baru saja saya sembuh dari ketakutan demonstrasi hari Jumat lalu, sekarang sudah ada berita provokasi lagi? Apa sih maunya orang-orang ini? Saya tau mereka gak punya Tuhan, saya tau mereka gak percaya sama Tuhan yang saya sembah, saya tau mereka gak mengimani Rasul yang saya imani. Tapi apa begitu caranya? Pada akhirnya mereka ini hanya akan memprovokasi manusia-manusia Muslim garis keras dengan keimanan setengah dan pendalaman agama super cetek tapi berani mati untuk berbuat rusuh. Dan akibat dari kerusuhan itu ditanggung sama orang-orang yang gak berdosa. Orang-orang yang bahkan gak tau ada apa. Orang - orang yang didalamnya termasuk anak kecil dan perempuan. Sementara pembuat provokasinya sendiri ongkang-ongkang kaki hidup tenang di negaranya, mereka ribut dan asyik rusuh membunuhi saudara sendiri. Untuk apa???

Biasanya saya diam, biasanya saya gak peduli urusan macam begini. Tapi kali ini saya marah, saya kesel. Apa orang-orang itu gak pernah bayangin gimana rasanya kalau istri mereka yang dirumah sendirian dalam kondisi seperti itu? Apa mereka gak pernah bayangin anak-anak mereka yang ngalamin kejadian kaya gitu? Apa mereka gak pernah bayangin, gimana kalau keluarga terdekat mereka yang meninggal/cacat gara-gara kerusuhan itu? Saya kasih tau ya, deg-degan dirumah dikelilingi suara sirine bolak-balik itu gak enak tau! Karena pada saat seperti itu kita gak pernah tau massa akan menyebar kemana. Situ pikir enak apa kalo keluar rumah aja harus sambil deg-degan ngeri dan was-was? Untung saya, suami, dan minime gak kenapa2. Allah masih lindungi kami. Alhamdulillah. Semoga dilindungi terus. Tapi manusia-manusia pembuat rusuh ini, pernahkah terpikir sama mereka kalau bukannya didoakan yang baik-baik, mereka malah dihujat banyak orang karena sudah menyusahkan hidup mereka? Pernahkah terpikir suatu saat hal yang sama mungkin akan menimpa keluarga mereka?

Saya gak ngerti urusan politik beginian. Saya cuma seorang istri yang akan jadi ibu, yang berharap bahwa keluarganya selalu berada dalam situasi yang aman dan terlindungi. Saya cuma berharap semoga Allah membukakan hati orang-orang ini supaya gak mudah termakan provokasi sembarangan, supaya gak ada lagi kerusuhan. Supaya semua orang bisa hidup tenang. By the end of the day, the event on Friday really taught me one thing: when you have no body around you, and you are scared, the only one that you can run to and ask for help and protection is only God. Semoga seterusnya kami berada dalam lindungan Allah SWT. Amien YRA.

No comments:

Post a Comment